Leadership, Salah Satu Faktor Berpengaruh Besar Dibalik Kesuksesan Berkarir

http://lokernesia.blogspot.com/2012/05/leadership-salah-satu-faktor.htmlLeadership, Salah Satu Faktor Berpengaruh Besar Dibalik Kesuksesan Berkarir
Nyaris semua perusahaan menjadikan “leadership” sebagai persyaratan untuk mereka mendapat seorang kandidat bergabung dalam perusahaan. Namun, apakah leadership itu sendiri? Seberapa jauh dia berpengaruh pada karir seseorang? Silakan disimak.

Leadership atau jiwa kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain agar dapat menjalankan tanggung jawabnya sesuai rencana yang telah ditentukan. Dalam dunia kerja, leadership memegang pengaruh besar dalam menunjang karir.

Leadership : Bisa Dilihat dari CV

Perusahaan merupakan sebuah organisasi besar yang terbagi ke dalam banyak departemen, seperti personalia, finance, marketing, surgical procedure, dan lain sebagainya. Bisa kita bayangkan bagaimana jika tidak ada pihak yang mengkoordinasi masing-masing departemen, pasti menjadi tak terkendali. Untuk itu, dibutuhkan pemimpin di sana.

Semua posisi membutuhkan kandidat yang memiliki leadership. Demikian disampaikan Desanggi Ayu Frananda Budiman, Assisstant Analyst Pendidikan dan Pelatihan PT PLN (Persero) Distribusi Jateng dan DIY. Menurutnya, pekerjaan sekecil apapun jika tidak dikelola dengan leadership yang baik tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

Dan jiwa leadership ini dimulai dari diri sendiri. “Jadi jika kita malas dan tidak bersemangat saat diberi tugas, jiwa kepemimpinan lah yang akan mendorong diri kita,” ujar Anggi, sapaan akrabnya.

Tidak hanya S1, lulusan D3 pun membutuhkan leadership saat bekerja di lapangan. “Lulusan apapun, akan mengalami proses di posisi staf untuk kemudian manajemen. Dan proses ini membutuhkan apa yang dinamakan leadership,” terang Lucas Prana Sunarja, All-purpose Administrator Human Assets Rift PT Astra Honda Motor.
Menurut Lucas, sapaan akrabnya, bibit leadership seseorang sudah bisa dilihat dari proses program CV. Misalnya, dari pengalaman organisasi yang ditulis. Namun tak hanya itu lho. Lucas juga mengungkapkan tahap wawancara bisa menjadi cara menggali potensi leadership seseorang. “Hal tersebut dilihat dari ketegasan pelamar dalam menyampaikan jawaban serta keberanian dalam berpendapat,” terangnya.

Karakter Ideal Pemimpin

Lalu, karakter apakah yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin? pemimpin bisa diibaratkan layaknya seorang pemandu.


Original source : Leadership, Salah Satu Faktor Berpengaruh Besar Dibalik Kesuksesan Berkarir

Pengumuman Daftar Ulang Calon Mahasiswa Baru Jalur PBKD Universitas Sriwijaya

- Untuk Para Calon Mahasiswa Baru yang diterima di Universitas Sriwijaya melaui Jalur PBKD maka diumumkan kepada seluruh calon mahasiswa baru Universitas Sriwijaya jalur PBKD Tahun 2012, WAJIB melakukan registrasi online dan pendaftaran ulang di BAAK Unsri Indralaya.

Universitas Sriwijaya
Tata cara pendaftaran ulang:

Calon mahasiswa melakukan pembayaran biaya pendidikan dengan jumlah yang telah ditetapkan pada lampiran pengumuman di bawah ini ke Bank Sumsel Babel (seluruh kantor cabang).Calon mahasiswa melakukan registrasi online melalui link di atas, meng-upload foto sesuai persyaratan, dan mencetak output/printout registrasi online sebagai salah satu berkas pendaftaran ulang.Calon mahasiswa melakukan test kesehatan dan narkoba ke UPT Klinik Kesehatan Unsri Kampus Indralaya dengan membawa bukti/slip pembayaran Bank.Calon mahasiswa menyerahkan seluruh berkas pendaftaran ke BAAK Unsri Indralaya (tidak boleh diwakilkan) barrier lambat hari Jumat 10 Agustus 2012.Bagi calon mahasiswa yang tidak menyerahkan seluruh berkas pendaftaran ulang ke BAAK sampai padabatas waktu terakhir di atas, dapat dianggap mengundurkan diri.Calon mahasiswa mendapatkan kartu tanda pengenal mahasiswa.
Informasi lebih lengkapnya bisa anda kunjungi situs resminya di http://www.unsri.ac.id


Original source : Pengumuman Daftar Ulang Calon Mahasiswa Baru Jalur PBKD Universitas Sriwijaya

Peran Guru dalam Proses Pendidikan

Efektivitas dan efisiensi belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :

Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan;
Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;
Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;
Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik;
Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara genteel (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara genteel (kepada sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).

Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup :

Guru sebagai perencana (conspirator) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-instruction harms).;
Guru sebagai pelaksana (controller), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (pile self), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (all owing to instruction harms).
Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.

Selanjutnya, dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (instructor counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (corrective instruction).

Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent).

Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang psikologis.

Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :

Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;
Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;
Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin;
Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik;
Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan; dan
Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.

Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru berperan sebagai :

Pekerja sosial (social hand), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat;
Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;
develop keteladanan, artinya guru adalah develop perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik; dan
Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.

Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :

Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;
seniman dalam hubungan antar manusia (actor in human relations), artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan;
Pembentuk kelompok (group designer), yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan;
Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik; dan
Petugas kesehatan mental (mental cleanliness hand), artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.

Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru dalam pembelajaran yaitu menciptakan keteraturan (establishing diplomacy) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang sehubunganmisi langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak tempat duduk, disiplin peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan sesamanya, interaksi peserta didik dengan guru, jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan belajar, prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan belajar, dan lain-lain.

Sejalan dengan tantangan kehidupan comprehensive, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang barrier well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.

Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.


Original source : Peran Guru dalam Proses Pendidikan